Showing posts with label Rasul. Show all posts
Showing posts with label Rasul. Show all posts

Sunday, December 7, 2008

Haji Pertama Dan Terakhir

Hari ini menjelang akhir tahun ke-10 Hijriah, lebih 14 abad silam. Panas dan udara gurun yang kering tetap tidak berubah, sementara kehidupan Nabi yang sangat produktif itu makin mendekati garis finish. Sebelum berpisah, Nabi mengundang umatnya di Madinah untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah secara sempurna, tanpa seorang musyrik pun terlibat di dalamnya. Ziarah ke Rumah Tuhan dan daerah sekitarnya, yang kemudian dipraktikkan selamanya di kemudian hari. Ziarah yang murni islami ini dimaksudkan pula sebagai ‘Haji Perpisahan’ atau haji al-wada’, menandai hasil akhir karir gemilang yang tidak ada duanya dari makhluk Tuhan paling sempurna.

Undangan Nabi mendapat respon luar biasa. Inilah haji pertama Nabi bersama-sama muslim. Untuk pertama kali pula sejarah mencatat pemandangan lebih 100.000 manusia, laki-laki dan perempuan, berkumpul di Madinah menyertai Nabi, sekaligus haji terakhir sebelum beliau kembali ke pangkuan Al-Khaliq. Pada 25 Dzulkaidah rombongan berangkat. Setelah menginap satu malam di Dhul-Hulaifa, esoknya Nabi mengenakan pakaian ihram diikuti seluruh anggota rombongan. Mereka berjalan bersama-sama dengan pakaian putih yang sederhana, perlambang kesederhanaan dan persamaan yang amat jelas.

Dengan seluruh kalbu Muhammad menengadahkan wajahnya kepada Tuhan sembari mengucapkan takbiah sebagai tanda syukur atas nikmat karunia Nya diikuti kaum muslimin di belakangnya: “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdulillah wa-ni’matu wa’sysyukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika.” (Aku datang memenuhi panggilan Mu, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan Mu. Tiada sekutu bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu. Segala puji, kenikmatan dan syukur, hanya bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu).

Di bawah sengatan matahari gurun, di padang pasir yang tidak dikenal banyak umat, bergerak arus manusia dan kafilah menuju satu titik. Mereka menyambut panggilan Nabi Ibrahim beberapa abad silam. Tidak ada peristiwa yang membedakan seseorang dengan lainnya. Tidak pula perbedaan ras, bangsa atau warna kulit. Sesungguhnya, inilah pemandangan paling indah tentang asas persamaan bahwa semua makhluk sama di depan Tuhan. Yang membedakan, hanya kadar iman dan takwa seseorang.

Mereka memenuhi seruan Nabi untuk saling mengenal, merajut kasih sayang, keikhlasan hati dan semangat ukhuwah islamiah. Dengan penuh kesabaran pula mereka menanti tibanya Haji Akbar, dan rasa rindu bertemu Baitullah, dengan jantung berdegup keras. Sementara dunia dan sejarah menatap kagum dan heran. Dan, sejarah ibarat kakak tua yang selalu terbelenggu argumentasinya. Ia sang pembual yang membacakan Hikayat Fir’aun, Kisra, kaisar dan aristokrat yang culas. Ia penjilat dan pembohong besar yang bercerita tentang tahta, pertempuran atau perdamaian, tanpa secuil pun di usianya yang panjang itu, memihak kepada kaum miskin, papa dan tertindas. Karena itu sejarah melihat takjub kepada Nabi dan orang yang bersamanya, bertaut rasa kagum dan heran.


Haji Perpisahan


Pada 4 Dzulhijjah rombongan masuk Makkah, selanjutnya menuju Ka’bah. Muhammad datang kepada Tuhannya di hari-hari akhir hayatnya, di Maqam Ibrahim, bapak agama langit dalam sejarah umat manusia, untuk mempertanggungjawabkan hasil karya dan perjuangannya yang penuh dinamika. Dihadapan Nya pula dia meminta kesaksian kepada umat manusia bahwa dia tidak pernah berhenti bekerja, dan tak kenal lelah dalam berjuang menuntaskan risalah Nya. Dia juga memperlihatkan kepada Ibrahim, karya besar yang diawalinya, kini diantarkannya hingga batas tersebut dan digerakkannya sesuai pedoman yang digariskan.

Sesudah tawaf, Nabi shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, lalu mencium Hajar Aswad untuk kedua kalinya. Kemudian menghadapkan wajahnya ke arah Shafa, lalu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Di situ dimaklumatkan barangsiapa yang tidak membawa hadyu (ternak kurban untuk disembelih) hendaknya mengakhiri ihramnya (tahallul) dan menjadikan ibadah itu sebagai umrah.

Hari ke-8 Zulhijjah yaitu Hari Tarwiyah, beliau pergi ke Mina bersama rombongannya. Selama satu hari melakukan shalat dan tinggal bersama kaumnya. Malamnya di saat sang fajar menyembul setelah Shalat Subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’ tatkala matahari mulai tampak, beliau menuju Gunung Arafat. Dalam perjalanan yang diikuti ribuan muslim yang mengucapkan talbiah dan bertakbir, Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka dalam kekhusyuan.

Ketika sampai di perut wadi di bilangan Urana, masih di atas unta, Nabi berdiri dan berkhutbah di depan lebih 100.000 orang yang mengelilinginya. Itulah peristiwa bersejarah yang dikenal dengan julukan ‘haji Perpisahan’. Peristiwa yang begitu mengesankan dan indah, serta merupakan khulasha (kesimpulan) ajaran Islam dan sunnahnya yang ia wariskan kepada masyarakat Islam. Khutbah berlangsung di bawah panas matahari yang mampu membakar ubun-ubun, dan didengarkan dengan khidmat. Kepada Umayyah bin Rabi’ah bin Khalaf diminta mengulang keras setiap kalimat yang beliau sampaikan, agar didengar di tempat yang jauh.


Pesan Penting Khutbah Perpisahan

 

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

(1) larangan membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang hak

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu merupakan kemuliaan ( haram dirusak oleh orang lain ) bagi kamu sekalian, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini.

(2) kewajiban meninggalkan tradisi jahiliyah : pembunuhan , riba

Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi. (Sebagai contoh) hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu.

Transaksi riba yang dilakukan pada masa jahiliyah juga tidak sudah tidak berlaku lagi sejak hari ini. Transaksi yang aku nyatakan tidak berlaku lagi adalah transaksi riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya seluruh transaksi riba itu semuanya batal dan tidak berlaku lagi.

(3) mewaspadai gangguan syaitan dan kewajiban menjaga agama

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya syetan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain . Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.

(4) larangan mengharamkan yang dihalalkan dan sebaliknya

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya merubah-rubah bulan suci itu akan menambah kekafiran. Dengan cara itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian kamu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkanNya.

Sesungguhnya zaman akan terus berputar, seperti keadaan berputarnya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut : Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

(5) kewajiban memuliakan wanita (isteri)

Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka (menjadi isteri) dengan amanah Allah dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah.

Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isteri kamu dan isteri kamu mempunyai kewajiban terhadap diri kamu. Kewajiban mereka terhadap kamu adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kamu suka ke dalam rumah kamu. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.

Maka perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia sekalian..sesungguhnya aku telah menyampaikannya..

(6) Kewajiban berpegang teguh pada Al Qur’an dan as Sunnah

Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah nabiNya (Al-Hadis).

(7) kewajiban taat kepada pemimpin siapapun dia selama masih berpegang teguh pada al Qur’an

Wahai manusia sekalian..dengarkanlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin kamu , walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran kitabullah (Al- Quran) kepada kalian semua.

(8) Kewajiban berbuat baik kepada hamba sahaya

Lakukanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka.

(9) Umat Islam adalah bersaudara satu dengan yang lain

Wahai manusia sekalian.

Dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah.

Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan senang hati yang telah diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.

(10) kewajiban menyampaikan khutbah Rosulullah saw kepada yang lain

Ya Allah..sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka..?

Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain.

Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar berita tentang khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini.

Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan ? Semua yang hadir menjawab : Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad kemudian bersabda : ” Ya allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini..Ya allah saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini ” [Hadis Bukhari dan Muslim].



Berakhirlah Haji Wada’.Kemudian Nabi meninggalkan Makkah menuju Madinah. Beliau tinggalkan pesan-pesan yang sangat penting kelak tetap hidup sepanjang sejarah. Esensi khutbah Nabi yang takkan terlupakan, yang senantiasa bergema dan menghunjang ke seluruh hati sanubari dan jiwa umat Islam yang telah memberikan nama ‘al-Islam’ kepada agama Tauhid yang dibawa Muhammad bin Abdullah ialah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maaidah: 3).

Nabi telah menyelesaikan akhir karya besarnya, yang gigantik, risalahnya yang penting bagi dunia dan umat manusia. Tokoh terbesar sepanjang sejarah itu membaringkan kepalanya untuk selama-lamanya. Beliau wafat di tengah pendukungnya yang setia, penuh ketenteraman dan dengan ruh yang penuh taufiq untuk bertemu Kekasihnya dalam desah nafas terakhir. Ya, keharibaan Yang Maha Tinggi di surga.
 
 
 

A Mirror

 

Haji adalah rukun iman yang terakhir, yang kelima, yang diperuntukkan hanya bagi yang mampu. Mampu secara marteriil, mampu secara fisik, maupun mampu secara psikologi.

Setiap muslim sejatinya memiliki kerinduan mendalam untuk segera berkunjung ke Baitullah. Bercita-cita untuk menjadi tamu Allah meskipun sekali seumur hidup kita. Bahkan bagi yang pernah kesana, ingin segera kembali menjadi tamu Allah.

Tapi pernahkah kita sadar, apa tujuan kita berhaji? Untuk sekadar mendapatkan titel haji? Yang dengan titel tersebut kita menjadi dihormati masyarakat hingga mendapat banyak panggilan ceramah?

Pernahkah kita berfikir, bahwa haji adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban atas kehidupan kita, seperti Rasulullah SAW mempertanggung jawabkan hasil kerja keras beliau yang tiada kenal henti dan tiada kenal lelah?

Sudahkah kita siap berhadapan dengan Allah SWT untuk sanggup berkata "Ya Allah, aku sudah melakukan ini, aku sudah melakukan itu, semua demi keagungan Agama-Mu, semua demi kecintaanku kepada Rasul-Mu, semua hanya karena kecintaanku kepada-Mu, Ya Allah"? [zq]

Referensi

 

Monday, October 20, 2008

Iman kepada Nabi dan Rasul

bismillah 

 

Shalawat 04

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana engkau telah memuliakan Ibrahim; dan berilah berkat oleh-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim."

(HR. Al-Bukhari dan Abu Sa'id)



. . . Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." . . .

(HR. Muslim)

 



03-144 (Ali-Imran)

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

(Q.S Ali-Imran [03]: 144)



Seorang muslim wajib beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah memilih diantara umat manusia sejumlah nabi dan rasul sebagai utusan-Nya kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang disediakan bagi mereka yang beriman, dan memperingatakan mereka tentang akibat kekufuran (syirik). Merekapun memberi teladan tingkah laku yang baik dan mulia bagi manusia, antara lain dalam bentuk ibadah yang benar, akhlak yang terpuji dan istiqomah (berpegang teguh) terhadap ajaran Allah.

 

 

Pengertian Nabi dan Rasul

 

02-136 (Al-Baqarah)

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 136)



Dulu ketika belajar agama di sekolah, perbedaan nabi dan rasul adalah bahwa nabi menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri, adapun rasul menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada segenap umatnya.

Dulu, pengertian seperti itu masih terasa masuk akal, tapi sekarang terasa sangat ganjil. Mungkinkah Allah SWT menyampaikan suatu wahyu kepada seorang nabi hanya untuk dirinya? Kalau hanya untuk satu orang, untuk apa wahyu tersebut diturunkan?

Pengertian yang lebih masuk akal adalah, nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya syari'at rasul sebelumnya dan diperintahkan untuk menyampaikan syari'at itu kepada kaum tertentu.

Adapun rasul adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syari'at baru untuk disampaikan kepada kaumnya sendiri atau semua kaum.

Dengan batasan yang jelas ini, dapat dikatakan bahwa nabi Musa AS adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi nabi Harun AS hanyalah nabi. Adapun nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul yang memiliki keistimewaan bahwa kenabian dan kerasulannya adalah untuk seluruh umat manusia dan beliau adalah penutup para nabi dan rasul.

 

 

Jumlah Nabi dan Rasul serta keluasan ajaran risalahnya

40-78 (Al-Mu'min)

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

(Q.S. Al-Mu'min [40]: 78)



Seorang muslim wajib beriman bahwa Allah telah mengutus sejumlah nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad SAW, meski tidak perlu mengetahui berapa jumlah mereka seluruhnya, siapa nama-nama mereka dan di mana mereka bertugas.

Dalam suatu hadist riwayat Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya, dikatakan bahwa jumlah nabi ada lebih kurang 124000 orang dan jumlah rasul ada 315 orang. Tetapi riwayat tersebut bukan hadist muttawatir, karenanya tidak bisa dijadikan pegangan dalam aqidah. Sebab aqidah tidak boleh berlandaskan dalil-dalil yang dzonni (yang belum pasti kebenarannya).

Berbeda dengan para nabi dan rasul sebelumnya, kenabian Muhammad SAW, dapat dibuktikan secara aqli dengan mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-Qur'an.

Seorang muslim wajib mengetahui 25 nabi dan rasul diantaranya:

01. Nabi Adam AS

02. Nabi Idris AS

03. Nabi Nuh AS

04. Nabi Huud AS

05. Nabi Shaleh AS

06. Nabi Ibrahin AS

07. Nabi Ismail AS

08. Nabi Luth AS

09. Nabi Ishaq AS

10. Nabi Ya'qub AS

11. Nabi Yusuf AS

12. Nabi Syu'aib AS

13. Nabi Ayyub AS

14. Nabi Dzulkifli AS

15. Nabi Musa AS

16. Nabi Harun AS

17. Nabi Daud AS

18. Nabi Sulaiman AS

19. Nabi Ilyas AS

20. Nabi Ilyasa AS

21. Nabi Yunu AS

22. Nabi Zakaria AS

23. Nabi Yahya AS

24. Nabi Isa AS

25. Nabi Muhammad SAW

 

 

Rasulullah Muhammad SAW adalah penutup Nabi dan Rasul

 

33-40 (Al-Azhab)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Q.S. Al-Azhab [33]: 40)



Selain beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, seorang muslim wajib pula meyakini bahwa nabi Muhammad SAW adalah khatamunnabiyin (penutup para nabi). Tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahnya sampai hari kiamat.

 

"Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis. Maka tidak ada nabi dan rasul sesudahku."

(HR. Imam Ahmad bin Hambal dari Anas bin Malik)

 



"Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat rumah; diperindah dan diperbagusnya (serta diselesaikan segala sesuatunya) kecuali tempat (yang disiapkan) untuk sebuah batu bata di sudut rumah itu. Orang-orang yang mengelilingi rumah itu mengaguminya, tetapi bertanya: 'Mengapa engkau belum memasang batu bata itu?' Nabipun berkata: 'Akulah batu bata (terakhir) - sebagai penyempurna - itu, dan sayalah penutup para nabi."

(HR. Imam Bukhari, Ahmad Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)



Makna Iman kepada Rasulullah Muhammad SAW

04-65 (An-Nisa)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

(Q.S. An-Nisa [04]: 65)



Ketika seorang muslim mengucapkan "Laa ilaaha illallah; Muhammadur Rasulullah" berarti ia telah meyakini bahwa hanya Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak di ibadahi dan diabdi, dipatuhi dan di taati serta sebagai satu-satunya pembuat syari'at. Ia pun meyakini bahwa dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah, hanya Muhammad SAW satu-satunya hamba Allah yang berhak untuk diikuti dan diteladani. Tidak boleh mengambil satu teladanpun kecuali dari beliau.

Artinya kita sepenuhnya percaya bahwa Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul penutup, tidak ada lagi nabi setelah beliau, kecuali nabi-nabi palsu.

 

"Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tukang-tukang bohong (para penipu) kira-kira 30 orang. Semua mengaku dirinya sebagai rasul Allah".

(HR. Bukhari , Muslim Ahmad dari Abu Hurairah)



Jelaslah sudah kalau Mirza Gulam Ahmad termasuk salah seorang dari 30 nabi palsu yang muncul menjelang hari kiamat.

Dari ayat diatas juga dapat di artikan bahwa tidak boleh mengambil hukum dari agama manapun, baik dari agama yang sudah menyimpang dan diubah seperti Yahudi dan Nasrani, ataupun agama yang sumbernya dari manusia seperti Hindu, Budha, Qodiyaniyah, dan lain-lain dalam hukum ibadah dan keakhiratan

Juga tidak boleh mengambil huku dari Voltaire, Montesque ataupun Karl Marx dalam hukum kemasyarakatan dan tata negara.

Begitu pula tidak boleh mengambil ideologi apapun di dunia ini, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan lain-lain.

Selaku seorang muslim, kita dituntut untuk merujuk hanya kepada Islam dan hanya mengikuti Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewajibkan segenap muslimin untuk menerapkan secara sempurna segala apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, tanpa membeda-bedakan antara hukum ibadah, muamalah, Hudud/Jinayah, dll.



Semua hukum Allah itu sama rata ditinjau dari kewajibannya untuk diterapkan.



Wallahu 'Alam bissawab

Alhamdulillah 

 

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

- Kisah para Nabi dan Rasul

http://www.dzikir.org/b_cerita.htm

- Hadist Web 2.0 

http://opi.110mb.com/

- Kumpulan Shalawat yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits - CyberMQ.com

www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/12/1/pustaka-171.html