Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Sunday, June 7, 2009

Dicatut, Dosen UIN Yogyakarta Gugat 'Ilusi Negara Islam'

Diambil dari: http://www.detiknews.com/read/2009/05/27/134543/1137982/10/dicatut-dosen-uin-yogyakarta-gugat-ilusi-negara-islam

Jakarta
- Kontroversi buku 'Ilusi Negara Islam' kembali memanas. Kali ini sejumlah nama yang dimasukkan sebagai peneliti buku tersebut menggugat karena merasa namanya dicatut.

Gugatan disampaikan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki. Dia merasa, tidak pernah menjadi peneliti buku tersebut, tapi namanya tercantuk dalam buku yang memunculkan polemik tersebut.

Rozak mengaku ia bersama 2 temannya, Nur Kholik Ridwan, dan Supardi pernah diajak untuk menjadi peneliti buku tersebut. Namun ia membatalkan kontrak karena Yayasan Fatsuna, yang menerbitkan buku itu menolak diajak debat tentang metodologi penelitian.

"Kami bertiga, saya, Nur Kholik Ridwan, dan Supardi mundur. Mereka katanya hendak melakukan riset perkembangan agama di Indoenesia, tapi diajak debat metodologi tidak mau. Ini aneh," jelas Rozak itu saat berbincang melalui telepon, Rabu (27/5/2009).

Penolakan tersebut terjadi pada 2 tahun lalu. Anehnya saat buku Ilusi Negara Islam diterbitkan Wahid Institute pada 2009, nama Rozak dan kawan-kawan tetap dicantumkan.

"Setelah kami cek itu ada ghost writer, entah siapa yang buat. Makanya ini ada apa?" jelas Rozak.

Dia menuturkan, memang proyek buku ini didanai Holland Taylor dari organisasi Lib for All dan dilaksanakan oleh Abdul Munir Mulkan. Belakangan Abdul Munir bahkan tidak sepakat buku itu diterbitkan.

"Memang buku itu tidak jelas siapa penulisnya. Masak editornya Gus Dur? Kan tidak mungkin. Ini politisasinya kebablasan," terangnya.

Rozak bersama temannya pun sempat melakukan komplain kepada penerbit, sayangnya dia mendapat jawaban bila apa yang tercantum dalam buku itu bukan tanggung jawab penerbit.

"Enak saja pakai nama orang. Yang saya khawatir buku ini dijual di kalangan internasional untuk kepentingan Taylor. Karena bagi kami buku ini tidak akademis," tutupnya.

Buku 'Ilusi Negara Islam' yang The Wahid Institute dan Maarif Institute diluncurkan pada 16 Mei 2009 lalu. Buku ini mengupas soal masuknya gerakan Islam baru yang antara lain memasukkan PKS dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan organasasi Islam garis keras yang menyusup Muhammadiyah dan NU. PKS dan HTI memprotes buku tersebut.

(ndr/iy)

Sunday, December 7, 2008

Haji Pertama Dan Terakhir

Hari ini menjelang akhir tahun ke-10 Hijriah, lebih 14 abad silam. Panas dan udara gurun yang kering tetap tidak berubah, sementara kehidupan Nabi yang sangat produktif itu makin mendekati garis finish. Sebelum berpisah, Nabi mengundang umatnya di Madinah untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah secara sempurna, tanpa seorang musyrik pun terlibat di dalamnya. Ziarah ke Rumah Tuhan dan daerah sekitarnya, yang kemudian dipraktikkan selamanya di kemudian hari. Ziarah yang murni islami ini dimaksudkan pula sebagai ‘Haji Perpisahan’ atau haji al-wada’, menandai hasil akhir karir gemilang yang tidak ada duanya dari makhluk Tuhan paling sempurna.

Undangan Nabi mendapat respon luar biasa. Inilah haji pertama Nabi bersama-sama muslim. Untuk pertama kali pula sejarah mencatat pemandangan lebih 100.000 manusia, laki-laki dan perempuan, berkumpul di Madinah menyertai Nabi, sekaligus haji terakhir sebelum beliau kembali ke pangkuan Al-Khaliq. Pada 25 Dzulkaidah rombongan berangkat. Setelah menginap satu malam di Dhul-Hulaifa, esoknya Nabi mengenakan pakaian ihram diikuti seluruh anggota rombongan. Mereka berjalan bersama-sama dengan pakaian putih yang sederhana, perlambang kesederhanaan dan persamaan yang amat jelas.

Dengan seluruh kalbu Muhammad menengadahkan wajahnya kepada Tuhan sembari mengucapkan takbiah sebagai tanda syukur atas nikmat karunia Nya diikuti kaum muslimin di belakangnya: “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdulillah wa-ni’matu wa’sysyukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika.” (Aku datang memenuhi panggilan Mu, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan Mu. Tiada sekutu bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu. Segala puji, kenikmatan dan syukur, hanya bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu).

Di bawah sengatan matahari gurun, di padang pasir yang tidak dikenal banyak umat, bergerak arus manusia dan kafilah menuju satu titik. Mereka menyambut panggilan Nabi Ibrahim beberapa abad silam. Tidak ada peristiwa yang membedakan seseorang dengan lainnya. Tidak pula perbedaan ras, bangsa atau warna kulit. Sesungguhnya, inilah pemandangan paling indah tentang asas persamaan bahwa semua makhluk sama di depan Tuhan. Yang membedakan, hanya kadar iman dan takwa seseorang.

Mereka memenuhi seruan Nabi untuk saling mengenal, merajut kasih sayang, keikhlasan hati dan semangat ukhuwah islamiah. Dengan penuh kesabaran pula mereka menanti tibanya Haji Akbar, dan rasa rindu bertemu Baitullah, dengan jantung berdegup keras. Sementara dunia dan sejarah menatap kagum dan heran. Dan, sejarah ibarat kakak tua yang selalu terbelenggu argumentasinya. Ia sang pembual yang membacakan Hikayat Fir’aun, Kisra, kaisar dan aristokrat yang culas. Ia penjilat dan pembohong besar yang bercerita tentang tahta, pertempuran atau perdamaian, tanpa secuil pun di usianya yang panjang itu, memihak kepada kaum miskin, papa dan tertindas. Karena itu sejarah melihat takjub kepada Nabi dan orang yang bersamanya, bertaut rasa kagum dan heran.


Haji Perpisahan


Pada 4 Dzulhijjah rombongan masuk Makkah, selanjutnya menuju Ka’bah. Muhammad datang kepada Tuhannya di hari-hari akhir hayatnya, di Maqam Ibrahim, bapak agama langit dalam sejarah umat manusia, untuk mempertanggungjawabkan hasil karya dan perjuangannya yang penuh dinamika. Dihadapan Nya pula dia meminta kesaksian kepada umat manusia bahwa dia tidak pernah berhenti bekerja, dan tak kenal lelah dalam berjuang menuntaskan risalah Nya. Dia juga memperlihatkan kepada Ibrahim, karya besar yang diawalinya, kini diantarkannya hingga batas tersebut dan digerakkannya sesuai pedoman yang digariskan.

Sesudah tawaf, Nabi shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, lalu mencium Hajar Aswad untuk kedua kalinya. Kemudian menghadapkan wajahnya ke arah Shafa, lalu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Di situ dimaklumatkan barangsiapa yang tidak membawa hadyu (ternak kurban untuk disembelih) hendaknya mengakhiri ihramnya (tahallul) dan menjadikan ibadah itu sebagai umrah.

Hari ke-8 Zulhijjah yaitu Hari Tarwiyah, beliau pergi ke Mina bersama rombongannya. Selama satu hari melakukan shalat dan tinggal bersama kaumnya. Malamnya di saat sang fajar menyembul setelah Shalat Subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’ tatkala matahari mulai tampak, beliau menuju Gunung Arafat. Dalam perjalanan yang diikuti ribuan muslim yang mengucapkan talbiah dan bertakbir, Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka dalam kekhusyuan.

Ketika sampai di perut wadi di bilangan Urana, masih di atas unta, Nabi berdiri dan berkhutbah di depan lebih 100.000 orang yang mengelilinginya. Itulah peristiwa bersejarah yang dikenal dengan julukan ‘haji Perpisahan’. Peristiwa yang begitu mengesankan dan indah, serta merupakan khulasha (kesimpulan) ajaran Islam dan sunnahnya yang ia wariskan kepada masyarakat Islam. Khutbah berlangsung di bawah panas matahari yang mampu membakar ubun-ubun, dan didengarkan dengan khidmat. Kepada Umayyah bin Rabi’ah bin Khalaf diminta mengulang keras setiap kalimat yang beliau sampaikan, agar didengar di tempat yang jauh.


Pesan Penting Khutbah Perpisahan

 

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

(1) larangan membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang hak

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu merupakan kemuliaan ( haram dirusak oleh orang lain ) bagi kamu sekalian, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini.

(2) kewajiban meninggalkan tradisi jahiliyah : pembunuhan , riba

Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi. (Sebagai contoh) hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu.

Transaksi riba yang dilakukan pada masa jahiliyah juga tidak sudah tidak berlaku lagi sejak hari ini. Transaksi yang aku nyatakan tidak berlaku lagi adalah transaksi riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya seluruh transaksi riba itu semuanya batal dan tidak berlaku lagi.

(3) mewaspadai gangguan syaitan dan kewajiban menjaga agama

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya syetan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain . Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.

(4) larangan mengharamkan yang dihalalkan dan sebaliknya

Wahai manusia sekalian,

Sesungguhnya merubah-rubah bulan suci itu akan menambah kekafiran. Dengan cara itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian kamu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkanNya.

Sesungguhnya zaman akan terus berputar, seperti keadaan berputarnya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut : Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

(5) kewajiban memuliakan wanita (isteri)

Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka (menjadi isteri) dengan amanah Allah dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah.

Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isteri kamu dan isteri kamu mempunyai kewajiban terhadap diri kamu. Kewajiban mereka terhadap kamu adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kamu suka ke dalam rumah kamu. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.

Maka perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia sekalian..sesungguhnya aku telah menyampaikannya..

(6) Kewajiban berpegang teguh pada Al Qur’an dan as Sunnah

Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah nabiNya (Al-Hadis).

(7) kewajiban taat kepada pemimpin siapapun dia selama masih berpegang teguh pada al Qur’an

Wahai manusia sekalian..dengarkanlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin kamu , walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran kitabullah (Al- Quran) kepada kalian semua.

(8) Kewajiban berbuat baik kepada hamba sahaya

Lakukanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka.

(9) Umat Islam adalah bersaudara satu dengan yang lain

Wahai manusia sekalian.

Dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah.

Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan senang hati yang telah diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.

(10) kewajiban menyampaikan khutbah Rosulullah saw kepada yang lain

Ya Allah..sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka..?

Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain.

Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar berita tentang khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini.

Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan ? Semua yang hadir menjawab : Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad kemudian bersabda : ” Ya allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini..Ya allah saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini ” [Hadis Bukhari dan Muslim].



Berakhirlah Haji Wada’.Kemudian Nabi meninggalkan Makkah menuju Madinah. Beliau tinggalkan pesan-pesan yang sangat penting kelak tetap hidup sepanjang sejarah. Esensi khutbah Nabi yang takkan terlupakan, yang senantiasa bergema dan menghunjang ke seluruh hati sanubari dan jiwa umat Islam yang telah memberikan nama ‘al-Islam’ kepada agama Tauhid yang dibawa Muhammad bin Abdullah ialah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maaidah: 3).

Nabi telah menyelesaikan akhir karya besarnya, yang gigantik, risalahnya yang penting bagi dunia dan umat manusia. Tokoh terbesar sepanjang sejarah itu membaringkan kepalanya untuk selama-lamanya. Beliau wafat di tengah pendukungnya yang setia, penuh ketenteraman dan dengan ruh yang penuh taufiq untuk bertemu Kekasihnya dalam desah nafas terakhir. Ya, keharibaan Yang Maha Tinggi di surga.
 
 
 

A Mirror

 

Haji adalah rukun iman yang terakhir, yang kelima, yang diperuntukkan hanya bagi yang mampu. Mampu secara marteriil, mampu secara fisik, maupun mampu secara psikologi.

Setiap muslim sejatinya memiliki kerinduan mendalam untuk segera berkunjung ke Baitullah. Bercita-cita untuk menjadi tamu Allah meskipun sekali seumur hidup kita. Bahkan bagi yang pernah kesana, ingin segera kembali menjadi tamu Allah.

Tapi pernahkah kita sadar, apa tujuan kita berhaji? Untuk sekadar mendapatkan titel haji? Yang dengan titel tersebut kita menjadi dihormati masyarakat hingga mendapat banyak panggilan ceramah?

Pernahkah kita berfikir, bahwa haji adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban atas kehidupan kita, seperti Rasulullah SAW mempertanggung jawabkan hasil kerja keras beliau yang tiada kenal henti dan tiada kenal lelah?

Sudahkah kita siap berhadapan dengan Allah SWT untuk sanggup berkata "Ya Allah, aku sudah melakukan ini, aku sudah melakukan itu, semua demi keagungan Agama-Mu, semua demi kecintaanku kepada Rasul-Mu, semua hanya karena kecintaanku kepada-Mu, Ya Allah"? [zq]

Referensi

 

Monday, October 20, 2008

Iman kepada Nabi dan Rasul

bismillah 

 

Shalawat 04

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana engkau telah memuliakan Ibrahim; dan berilah berkat oleh-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim."

(HR. Al-Bukhari dan Abu Sa'id)



. . . Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." . . .

(HR. Muslim)

 



03-144 (Ali-Imran)

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

(Q.S Ali-Imran [03]: 144)



Seorang muslim wajib beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah memilih diantara umat manusia sejumlah nabi dan rasul sebagai utusan-Nya kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang disediakan bagi mereka yang beriman, dan memperingatakan mereka tentang akibat kekufuran (syirik). Merekapun memberi teladan tingkah laku yang baik dan mulia bagi manusia, antara lain dalam bentuk ibadah yang benar, akhlak yang terpuji dan istiqomah (berpegang teguh) terhadap ajaran Allah.

 

 

Pengertian Nabi dan Rasul

 

02-136 (Al-Baqarah)

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 136)



Dulu ketika belajar agama di sekolah, perbedaan nabi dan rasul adalah bahwa nabi menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri, adapun rasul menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada segenap umatnya.

Dulu, pengertian seperti itu masih terasa masuk akal, tapi sekarang terasa sangat ganjil. Mungkinkah Allah SWT menyampaikan suatu wahyu kepada seorang nabi hanya untuk dirinya? Kalau hanya untuk satu orang, untuk apa wahyu tersebut diturunkan?

Pengertian yang lebih masuk akal adalah, nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya syari'at rasul sebelumnya dan diperintahkan untuk menyampaikan syari'at itu kepada kaum tertentu.

Adapun rasul adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syari'at baru untuk disampaikan kepada kaumnya sendiri atau semua kaum.

Dengan batasan yang jelas ini, dapat dikatakan bahwa nabi Musa AS adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi nabi Harun AS hanyalah nabi. Adapun nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul yang memiliki keistimewaan bahwa kenabian dan kerasulannya adalah untuk seluruh umat manusia dan beliau adalah penutup para nabi dan rasul.

 

 

Jumlah Nabi dan Rasul serta keluasan ajaran risalahnya

40-78 (Al-Mu'min)

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

(Q.S. Al-Mu'min [40]: 78)



Seorang muslim wajib beriman bahwa Allah telah mengutus sejumlah nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad SAW, meski tidak perlu mengetahui berapa jumlah mereka seluruhnya, siapa nama-nama mereka dan di mana mereka bertugas.

Dalam suatu hadist riwayat Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya, dikatakan bahwa jumlah nabi ada lebih kurang 124000 orang dan jumlah rasul ada 315 orang. Tetapi riwayat tersebut bukan hadist muttawatir, karenanya tidak bisa dijadikan pegangan dalam aqidah. Sebab aqidah tidak boleh berlandaskan dalil-dalil yang dzonni (yang belum pasti kebenarannya).

Berbeda dengan para nabi dan rasul sebelumnya, kenabian Muhammad SAW, dapat dibuktikan secara aqli dengan mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-Qur'an.

Seorang muslim wajib mengetahui 25 nabi dan rasul diantaranya:

01. Nabi Adam AS

02. Nabi Idris AS

03. Nabi Nuh AS

04. Nabi Huud AS

05. Nabi Shaleh AS

06. Nabi Ibrahin AS

07. Nabi Ismail AS

08. Nabi Luth AS

09. Nabi Ishaq AS

10. Nabi Ya'qub AS

11. Nabi Yusuf AS

12. Nabi Syu'aib AS

13. Nabi Ayyub AS

14. Nabi Dzulkifli AS

15. Nabi Musa AS

16. Nabi Harun AS

17. Nabi Daud AS

18. Nabi Sulaiman AS

19. Nabi Ilyas AS

20. Nabi Ilyasa AS

21. Nabi Yunu AS

22. Nabi Zakaria AS

23. Nabi Yahya AS

24. Nabi Isa AS

25. Nabi Muhammad SAW

 

 

Rasulullah Muhammad SAW adalah penutup Nabi dan Rasul

 

33-40 (Al-Azhab)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Q.S. Al-Azhab [33]: 40)



Selain beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, seorang muslim wajib pula meyakini bahwa nabi Muhammad SAW adalah khatamunnabiyin (penutup para nabi). Tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahnya sampai hari kiamat.

 

"Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis. Maka tidak ada nabi dan rasul sesudahku."

(HR. Imam Ahmad bin Hambal dari Anas bin Malik)

 



"Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat rumah; diperindah dan diperbagusnya (serta diselesaikan segala sesuatunya) kecuali tempat (yang disiapkan) untuk sebuah batu bata di sudut rumah itu. Orang-orang yang mengelilingi rumah itu mengaguminya, tetapi bertanya: 'Mengapa engkau belum memasang batu bata itu?' Nabipun berkata: 'Akulah batu bata (terakhir) - sebagai penyempurna - itu, dan sayalah penutup para nabi."

(HR. Imam Bukhari, Ahmad Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)



Makna Iman kepada Rasulullah Muhammad SAW

04-65 (An-Nisa)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

(Q.S. An-Nisa [04]: 65)



Ketika seorang muslim mengucapkan "Laa ilaaha illallah; Muhammadur Rasulullah" berarti ia telah meyakini bahwa hanya Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak di ibadahi dan diabdi, dipatuhi dan di taati serta sebagai satu-satunya pembuat syari'at. Ia pun meyakini bahwa dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah, hanya Muhammad SAW satu-satunya hamba Allah yang berhak untuk diikuti dan diteladani. Tidak boleh mengambil satu teladanpun kecuali dari beliau.

Artinya kita sepenuhnya percaya bahwa Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul penutup, tidak ada lagi nabi setelah beliau, kecuali nabi-nabi palsu.

 

"Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tukang-tukang bohong (para penipu) kira-kira 30 orang. Semua mengaku dirinya sebagai rasul Allah".

(HR. Bukhari , Muslim Ahmad dari Abu Hurairah)



Jelaslah sudah kalau Mirza Gulam Ahmad termasuk salah seorang dari 30 nabi palsu yang muncul menjelang hari kiamat.

Dari ayat diatas juga dapat di artikan bahwa tidak boleh mengambil hukum dari agama manapun, baik dari agama yang sudah menyimpang dan diubah seperti Yahudi dan Nasrani, ataupun agama yang sumbernya dari manusia seperti Hindu, Budha, Qodiyaniyah, dan lain-lain dalam hukum ibadah dan keakhiratan

Juga tidak boleh mengambil huku dari Voltaire, Montesque ataupun Karl Marx dalam hukum kemasyarakatan dan tata negara.

Begitu pula tidak boleh mengambil ideologi apapun di dunia ini, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan lain-lain.

Selaku seorang muslim, kita dituntut untuk merujuk hanya kepada Islam dan hanya mengikuti Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewajibkan segenap muslimin untuk menerapkan secara sempurna segala apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, tanpa membeda-bedakan antara hukum ibadah, muamalah, Hudud/Jinayah, dll.



Semua hukum Allah itu sama rata ditinjau dari kewajibannya untuk diterapkan.



Wallahu 'Alam bissawab

Alhamdulillah 

 

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

- Kisah para Nabi dan Rasul

http://www.dzikir.org/b_cerita.htm

- Hadist Web 2.0 

http://opi.110mb.com/

- Kumpulan Shalawat yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits - CyberMQ.com

www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/12/1/pustaka-171.html

 

Sunday, October 12, 2008

Iman kepada Kitabullah

bismillah

Shalawat 03

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakanlah olehMu akan Muhammad dan akan keluarganya, sebagaimana engkau telah memuliakan keluarga Ibrahim bahwasannya Engkau sangat terpuji dan sangat mulia. Ya Allah, wahai Tuhanku, berikan berkat olehmu akan Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim; bahwasannya Engkau sangat terpuji dan sangat mulia."

(HR. Bukhari dari Abu Sa'id, Ka'ab Ibn 'Ujrah)




. . . Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." . . .

(HR. Muslim)

 

 

02-02 (Al-Baqarah)

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa

(Q.S. Al-Baqarah [2] : 2)

 

Seorang muslim beriman dan yakin kepada segala hal yang diturunkan dan diwahyukan oleh Allah SWT, baik berupa kitab maupun yang difirmankanNya kepada beberapa rasul berupa shuhuf (lembaran).

 

Kitab-kitab yang berasal dari Allah SWT ada empat macam, yaitu:

  1. Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
  2. Taurat kepada Nabi Musa AS
  3. Zabur kepada Nabi Daud AS
  4. Injil kepada Nabi Isa AS

Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk Shuhuf, misalnya adalah apa yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS.

 

Diantara kitab tersebut, hanya Al-Qur'an yang dipelihara/dijaga keasliannya oleh Allah dan sekaligus berfungsi sebagai penyempurna dan penghapus syari'at-syari'at nabi dan rasul sebelumnya.

 

15-09 (Al-Hijr)

 Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

(Q.S. Al-Hijr [15] : 9)

 

 

05-48 (Al-Maidah)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu

(Q.S. Al-Maidah [5] : 48)

 

 

Beriman kepada kitab-kitab Allah mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil Aqli dan Naqli. Adapun mengenai penjelasan dalil-dalil tersebut, maka Al-Qur'an merupakan kitab yang berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Secara faktual/nyata, Al-Qur'an merupakan suatu kenyataan yang dapat dijangkau panca indra dan akal, dapat dipikirkan atau dibuktikan kebenarannya.

 

Berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, walaupun beberapa masih ada dan masih digunakan, fakta bahwa isinya telah berubah dan banyak sekali terdapat campur tangan manusia, membuktikan bahwa kitab-kitab tersebut tidak dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT, yang sangat jelas berbeda dengan Al-Qur'an.

 

Meski demikian, kita wajib meyakini bahwa kitab-kitab tersebut pernah diwahyukan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu.

 

04-136 (An-Nisa)

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

(Q.S. An-Nisa' [04]: 136)

 

Melalui akal (dalil aqli), kita bisa melihat ketinggian bahasa Al-Qur'an dan isi yang dikandungnya yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan Allah SWT kepada Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur'an bukan hasil karya seorang manusia.

 

Bahkan untuk itu, Rasulullah SAW telah menantang kaum Quraisy dan orang-orang arab untuk menandingi Al-Qur'an. Sebab beliau yakin bahwa kitab tersebut adalah sebagai satu-satunya mukjizat terbesar sekaligus bukti kenabiannya sebagai utusan Allah SWT.

 

17-88 (Al-Isra) 

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."

(Q.S. Al-Isra' [17] : 88)

 

Dari sini dapat dipahami bahwa kaum Quraisy dan bangsa Arab tidak dapat membuat satu ayat pun yang dapat menandingi Al-Qur'an. Dan karena Rasulullah SAW merupakan bagian dari kaum Quraisy dan bangsa Arab, maka pastinya Rasulullah SAW pun tidak akan mampu membuat satu surat pun yang dapat menandingi Al-Qur'an. Ini terbukti dengan banyaknya Hadist-hadist yang jauh sekali redaksinya dari Al-Qur'an. Dan kalau Muhammad SAW saja tidak mampu menandingi Al-Qur'an apalagi MGA.

 

Maka jelaslah bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.

 

Al-Qur'an telah mampu mengadakan revolusi mental dan sosial serta mengubah dan menuntun pemikiran manusia selama empat belas abad. Ia juga telah merubah wajah sejarah manusia dan membangun suatu ummat yang lemah menjadi perkasa, menerangi mereka dari jalan yang sesat ke jalan yang lurus dan mempersatukan barisan yang tercerai berai. Dengan karunia Allah dan petunjuk Al-Qur'an, terwujudlah kesatuan ummat di bawah undang-undang yang menegakkan hukum dan keadilan di muka bumi ini. Ia juga menjadi penuntun bagi ummat dan menjadi misi universal sebagai puncak mahkota peradaban manusia.

 

 Wallahu 'Alam bissawab.

Alhamdulillah

 

 

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

Saturday, September 13, 2008

Iman kepada Malaikat

Bismillahir Rohmanir Rohiim,

 

02-34 (Al-Baqarah) 

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

(Q.S. Al-Baqarah (2) : 34)

Iman kepada malaikat didasari pada dalil Naqli karena akal tidak pernah mampu menjangkau eksistensi/keberadaan malaikat.

Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur) tanpa menerangkan karakteristik (bentuk) cahaya (nur) tersebut. Oleh karena itu zat malaikat yang sebenarnya tidak mungkin dapat dijangkau akal, karena ia berada di luar jangkauan panca indra dan akal manusia.

 

Tingkatan, tugas dan wewenang diantara Malaikat

  • Malaikat Jibril

Adalah malaikat yang diberikan amanat untuk menyampaikan wahyu, turun membawa petunjuk kepada Rasul agar disampaikan kepada umat. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan sungguh dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang” (QS. At Takwiir : 23)

Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Aku melihatnya (Jibril) turun dari langit, tubuhnya yang besar menutupi antara langit sampai bumi” (HR. Muslim no. 177, dari ‘Aisyah radhiyallaHu ‘anHa)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam melihat jibril memiliki enam ratus sayap (HR. al Bukhari no. 4857)

 

  • Malaikat Mikail

Dialah yang diserahi tugas mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan dimana semua rizki di dunia ini berkaitan erat dengan keduanya. Terdapat penyebutan Jibril dan Mika-il secara bersamaan dalam satu ayat, Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mika-il, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 98)

  • Malaikat Israfil

Dia diserahi tugas meniup sangkakala atas perintah Rabb-nya dengan dua kali tiupan.

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).

 

  • Malaikat Malik

Dia adalah penjaga neraka. Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Rabb-mu membunuh kami saja’. Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di Neraka ini)’. Sesungguhnya Kami telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci kepada kebenaran itu” (QS. Az Zukruf : 77-78)

  • Malaikat Ridhwan

Dia adalah penjaga Surga. Ada sebagian hadits yang dengan jelas menyebutkan dirinya (al Bidaayah wan Nihaayah I/45)

 

  • Malaikat Munkar dan Nakir

Terdapat penyebutan dengan mereka di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Tatkala orang yang mati telah dikubur, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam kebiruan, salah satu diantara keduanya dinamakan Munkar dan yang lainnya dinamakan Nakir” (HR. at Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan at Tirmidzi no. 856)

 

  • Malaikat Harut dan Marut

Keduanya termasuk malaikat yang namanya tertulis di dalam al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

“Padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut” (QS. Al Baqarah : 102)

  • Malaikat Ar Ra'd

Malaikat ini bertugas mengatur awan. Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu berkata,

“Orang-orang Yahudi datang menemui Nabi, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya maka kami akan mengikuti, mempercayai dan beriman kepadamu’.

Mereka bertanya, ‘Beritahukan kepada kami tentang ar Ra’d, apakah itu ?’. Beliau menjawab, ‘Salah satu malaikat yang diserahi tugas untuk mengatur awan’” (HR. an Nasai, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah no. 1872)

  • Malaikat Izrail

Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."  (Q.S. As-Sajdah(32) : 11)

Penamaannya dengan malaikat maut tidak disebutkan dengan jelas di dalam al Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih. Adapun penamaan dirinya dengan ‘Izrail terdapat di sebagian atsar. WallaHu a’lam. (al Bidaayah wan Nihaayah I/42)

 

  • Malaikat Raqib-Atid

Sebagian ulama menjelaskan bahwa diantara malaikat ada yang benama Raqib dan ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman,

“Maa yalfizhu min qaulin illaa ladayHi raqiibun ‘atiidun” yang artinya “Tidak suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 18)

Namun demikian pendapat ini tidak benar, wallaHu a’lam. Keduanya hanya sifat bagi dua malaikat yang mencatat perbuatan hamba. Makna Raqib dan ‘Atid ialah dua malaikat yang hadir, menyaksikan di dekat hamba, bukan dua nama dari dua malaikat (al Bidaayah wan Nihaayah I/35-49).

 

Iman kepada malaikat wajib diyakini karena penukilannya bersumber dari sesuatu yang secara akal sudah dipastikan kebenarannya, yakni Al-Quran dan As-Sunnah.

Dengan keimanan yang utuh terhadap malaikat, seorang Muslim akan berhati-hati dalam berbuat, karena ia yakin sang Malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan buruknya. Selain itu dia akan semakin berani dan optimis dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam mengemban dakwah, karena ia yakin selalu "dikawal" oleh tentara Allah yang perkasa, yakni para Malaikat.

 

Alhamdulillahirrobil 'Allamiin.

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

 

-  Nama-nama Malaikat dan Tugas-tugasnya

http://duwex.wordpress.com/2007/03/30/nama-nama-malaikat-dan-tugas-tugasnya/

Sunday, August 31, 2008

Uqdatul Kubro

Bismillahir Rohmanir Rohiim,

 

 6-162 (Al-Anam)-2

6-162 (Al-Anam)

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

(QS. Al-An'am (6) : 162)

 

Uqdatul Kubro secara bahasa artinya adalah simpul besar. Banyak juga diartikan sebagai simpul kehidupan yang sangat besar.

Kenapa dikatakan sebagai simpul? Karena pada hakekatnya uqdatul qubro adalah 3 pertanyaan mendasar tentang kehidupan yang pasti dialami dan dijawab oleh setiap manusia, baik secara sadar maupun tidak. Dan munculnya filsafat juga pada hakekatnya adalah untuk mengurai simpul kehidupan ini.

Bila pertanyaan ini berhasil dijawab, maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntutan dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain menjadi ideologi pribadinya.

Bagaimana bila tidak berhasil di jawab? maka orang tersebut akan terus berada dalam kebimbangan dalam hidupnya.

Saya pribadi adalah seorang SuFi (Suka Film) dan penggemar komik sejati. Dari semua film yang telah saya tonton seperti Lord Of The Rings, The Matrix, Spiderman, Batman, Sweet November dan banyak lainnya. Dan berbagai macam komik, mulai dari Doraemon, Samurai X, Naruto, Full Metal Al-Chemist dan lainnya. saya menyimpulkan bahwa cerita-cerita tersebut pada intinya adalah usaha sang tokoh untuk menjawab Uqdatul Kubro ini, walaupun dengan cara yang salah, mustahil dan jauh dari ajaran Islam.

Jadi, apakah 3 pertanyaan itu?

1. Dari manakah manusia dan kehidupan ini?

2. Untuk apa manusia dan kehidupan ini diciptakan?

3. Akan kemanakah manusia dan kehidupan ini?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat sederhana, tapi impactnya sangat besar terhadap kehidupan kita.

Manusia dalam usahanya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas telah menghasilkan berbagai macam pemikiran yang menjadi pegangan hidupnya yang dalam Islam disebut sebagai Aqidah. Adapun aqidah yang nantinya di legitimate atau disahkan menjadi suatu pegangan dalam sebuah negara disebut dengan Ideologi.

Dari semua aqidah tersebut, saya menyimpulkan hanya ada 2 macam aqidah/pemikiran.

1. Materialisme

Materialisme memandang bahwa kehidupan ini ada dengan sendirinya, makhluk hidup berasal dari tanah/materi dan akan kembali menjadi tanah/materi, oleh karenanya kita hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama kita mampu. Materialisme tidak meyakini adanya hal gaib seperti tuhan, ruh, akhirat, pahala dan dosa, dan lainnya. Mereka percaya segalanya materi belaka. Mereka tidak mengakui eksistensi agama.

Materialisme sendiri akan melahirkan komunisme sebagai Ideologinya.

2. Agamis (Semua agama, tidak hanya Islam)

Agamis memandang bahwa dibalik kehidupan ini ada sang pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi tugas kehidupan pada manusia, dan kelak ada kehidupan lain setelah dunia ini, yang akan membalas semua kehidupan dunia ini.

Semua agama kecuali Islam akan melahirkan sistem Teokrasi sebagai Ideologinya.

 

Dua jawaban ini bukan berdasar pada apa yang benar dan apa yang salah, tidak juga berdasar pada filsafat mengenai suatu ajaran tertentu, tetapi kesimpulan pribadi semata melihat begitu banyak ajaran-ajaran di dunia ini yang intinya adalah menjawab 3 pertanyaan dasar tadi.

Berdasarkan itu pula, maka saya berani berkata, bahwa ajaran lainnya adalah kombinasi dari 2 jawaban tersebut. Sebagai contoh :

1. Sekulerisme, yang notabene adalah kekecewaan para politisi dan ilmuwan terhadap ajaran sebagian besar agama yang tidak sanggup menjawab masalah-masalah dalam kehidupan ini, sehingga mereka memisahkan antara urusan agama dan urusan kehidupan.

2. Liberalisme, yang merupakan bentuk lain (bentuk lebih canggih) dari Sekulerisme yang membebaskan individu dari keterikatan negara dalam hal perekonomian. Jadi jangan kaget kalau dalam Liberalisme, semua hal di privatisasi dan dilegalkan atas nama kebebasan.

3. Demokrasi, yang merupakan bentuk sekulerisme yang berasal dari agama / norma adat. Artinya, peraturan-peraturan yang dibentuk, pada dasarnya adalah hukum-hukum agama / norma adat yang kemudian terkena imbas sekulerisme dan hukum-hukum agama / norma adat tersebut bergeser menjadi norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Kebenaran dalam demokrasi dalah ketika sebagian besar masyarakat menyatakan setuju, meskipun sudah tidak sesuai dengan hukum agama / norma adat.

Jadi jangan heran kalau Dewa 19 dalam lagunya yang berjudul Hidup adalah perjuangan berkata :

...

Kebenaran hari ini
Bukanlah berarti
kebenaran saat nanti
Kebenaran bukanlah kenyataan
...

 

Selanjutnya, saya tidak akan membahas maupun menanggapi komentar-komentar tentang pemikiran-pemikiran diatas, karena tentu saja banyak sekali pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapat saya.

 

Pemecahan Uqdatul Kubro

Pemecahan yang benar tentang masalah ini tidak akan terbentuk kecuali dengan pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang (1) alam semesta (al kaun), (2) manusia (al insan) dan (3) kehidupan (Al hayaah) serta hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan ini.

 

1. Proses Keimanan terhadap Al-Kholiq (Sang Pencipta)

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta (Al-Kholiq). Dan meskipun kaum sekuler / komunis tidak mengakui adanya tuhan, mereka begitu mengagung-agungkan tokoh-tokoh komunis sampai lebih menyerupai penyembahan terhadap tuhan.

Kita sempat terkecoh dan terjebak dengan pemikiran-pemikiran kaum komunis tentang keberadaan Tuhan, bagaimana Tuhan tidak bisa dilihat dan tidak berwujud maka Tuhan itu tidak ada?

Untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sebetulnya cukup mudah, semudah membalikkan telapak tangan, kita hanya perlu membalik pertanyaannya, bukan buktikan bahwa Tuhan itu ada, tetapi buktikan bahwa Tuhan itu tidak ada!

Manusia, hewan dan tumbuhan berasal dari ketiadaan, kemudian ada, tumbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi tidak ada lagi. Kita semua tahu, bahwa segalanya berasal dari ketiadaan, menjadi ada dan kembali menjadi tidak ada. Tidak hanya manusia, hewan, maupun tumbuhan, tetapi segala sesuatu yang kita jumpai dalam hidup ini mengalami proses yang sama yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa segalanya bersifat terbatas, dari 'ketiadaannya' hingga batas waktu yang tidak bisa dilampauinya lagi.

 

03-19 (Ali-Imron)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

(QS. Ali-Imron (3) : 190)

 

Dan sekumpulan benda-benda yang bersifat terbatas adalah terbatas juga, termasuk alam semesta ini. Manusia bersandar pada banyak hal, termasuk udara, air, tumbuhan, dan hewan. Demikian pula Tumbuhan dan hewan selalu bersandar pada yang lain karena keterbatasannya, maka bersandar kemanakah alam semesta dan seisinya ini?

Disini jelas bahwa diperlukan 'sesuatu yang lain', yang lebih hebat, yang menjadi tempat bersandar dan tidak menyandarkan dirinya pada yang lain. Inilah yang disebut sebagai Al-Khaliq atau Sang Pencipta.

Dalam menentukan sifat Al-Khaliq ini ada tiga kemungkinan,

Pertama, Diciptakan oleh yang lain. Please deh . . . Sang Pencipta diciptakan oleh yang lain? Lalu yang menciptakan sang pencipta nya sang pencipta siapa? Dan terus pertanyaannya berlajut seperti itu. Ini balik lagi ke pembahasan awal.

Kedua, Menciptakan dirinya sendiri. Stupid statement actually. Sangat gak masuk akal atawa irrasional.

Ketiga, Ia bersifat azali, wajibul wujud dan mutlak keberadaannya, dialah Allah SWT.

 

Iman kepada sang Khaliq ini merupakan sesuatu hal yang fitri dalam diri setiap manusia, yang datang dari perasaan hati yang ikhlas, akan tetapi perasaan hati ini sering menambah-nambah atas apa yang diimani dengan sesuatu yang berwujud sehingga dapat menjerumuskan kearah kesesatan / kekufuran. Oleh karenanya Islam tidak membiarkan perasaan hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman.

Islam mengajarkan untuk tidak mempertanyakan atau mencoba mengindera tentang dzat Allah (sifat-sifat) secara langsung, tetapi memeritahkan kita untuk memahami dzat Allah melalui keberadaan ciptaan-ciptaanNya (QS. Ali-Imron (3): 190). Ini dikarenakan keterbatasan kemampuan indera manusia yang tidak akan sanggup menginder dzat Allah kecuali melalui ciptaanNya.

 

2. Proses Keimanan terhadap Rasul

Setelah kita mengimani sang Khaliq, maka kita selanjutnya melakukan pen-taqdis-an (pengagungan atau pensucian) yang selanjutnya kita kenal sebagai ibadah yang merupakan tali penghubung antara manusia dan PenciptaNya.

Apabila ibadah ini dibiarkan dengan sendirinya tanpa ada aturan, maka yang ada adalah kekacauan dan penyembahan dari selain dari pencipta yang sebenarnya.

Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur ini dengan baik, hanya saja aturan ini harus datang dari Al-Khaliq ke tangan manusia, maka tidak-boleh tidak, harus ada para Rasul yang menyampaikan agama ini.

Kenapa Allah tidak datang atau turun langsung memberikan aturan-aturan tersebut? Karena keterbatasan indera manusia, niscaya, manusia tidak akan sanggup untuk berhadapan langsung dengan Sang Khaliq.

Oleh karenanya, dalam Islam, tidak pernah ada istilah Tuhan turun ke bumi ataupun manusia / rasul menjadi Tuhan, karena Rasul itu jelas hanya seorang manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan agama Allah.

 

3. Proses Keimanan terhadap Al-Qur'an Kalamullah

Hal paling mudah untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an itu datang dari Allah SWT adalah bahwa telah terbukti Allah menjaga Al-Qur'an dari ayat terakhir turun hingga detik ini, isi Al-Qur'an tidak pernah berubah, segala daya dan usaha untuk merubahnya telah gagal, karena Allah SWT sendirilah yang menjaganya.

 

15-09 (Al-Hijr)

 

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.

(QS. Al-Hijr (15) : 9)

 

Oleh karenanya, terbukti sudah bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang terlindung dari campur tangan manusia.

Kita bisa lihat begitu banyak kitab-kitab suci diubah tangan manusia demi kepentingan manusia sehingga diragukan apakah ini perkataan Tuhannya ataukah hanya perkataan sang ahli kitab saja.

 

Konsekuensi  Iman kepada Allah, Rasulnya dan Al-Qur'an

Setelah kita beriman kepada Allah, Rasulnya, dan Al-Qur'an, maka kita telah wajib beriman terhadap apa saja yang dikabarkan oleh-Nya, baik yang dapat dicerna oleh akal maupun yang tidak.

Dari sini kita wajib beriman kepada hari kebangkitan dan pengumpulan (ba'ats), surga dan neraka, hisab dan siksa, malaikat, Jin dan Syaitan, serta apa yang diterangkan oleh Al-Qur'an dan Hadist qath'i.

Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan sebelum dunia, yaitu adanya Allah SWT dan proses penciptaan oleh-Nya; serta beriman kepada kehidupan setelah dunia yaitu hari akhirat. Perkataan-perkataan Allah SWT merupakan tali penghubung (shilah) antara kehidupan sebelum dunia dan kehidupan dunia, yaitu hubungan penciptaan (shilatul haq); dan sekaligus menjadi penghubung antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia (shilatul muhasabah) dan pastilah manusia terikat oleh tali penghubung ini.

Oleh karenanya, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan akan dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Disini kita telah berhasil menjawab uqdatul qubro dengan benar, bahwa sebelum adanya kehidupan ada Allah SWT; Kita berjalan diatas bumi ini karena Allah SWT dan sudah sepantasnya hanya untuk Allah SWT dan dengan peraturan Allah SWT; Untuk kemudian dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

 

Selanjutnya

Setelah kita telah berhasil memecahkan uqdatul qubro, maka sudah saatnya kita beriman kepada semua yang diperintahkan Allah SWT, termasuk beriman kepada Syari'at Islam (sebagaimana terhadap aqidah Islam) sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an.

Seorang yang ingkar terhadap hukum-hukum syara' secara keseluruhan atau sebagian, dapat menyebabkan ia menjadi kufur, baik hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, uqubat (sanksi), ataupun math 'umat (yang berkaitan dengan makanan).

Alhamdulillahirrobil 'Allamiin.

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

Sunday, July 20, 2008

Dari nol Lagi: Aqidah Islamiyah

bismillah

Shalawat 05

"Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad, isteri-isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memuliakan kepada keluarga Ibrahim. Dan beri berkatlah oleh-Mu kepada Muhammad dan isteri-isterinya serta keturunan-keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada keluarga Ibrahim: Bahwasannya Engkau sungguh sangat terpuji dan amat mulia

(HR. Bukhari dari Abu Hamid Al-Sa'idi)

112-1 (Al-Ikhlas)

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

112-2 (Al-Ikhlas)

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

(QS. Al-Ikhlas (112): 1-2)

 

 

Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rasululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rasululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”

(HR. Muslim)

Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya.

Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.

Aqidah Islamiyah adalah pembahasan mendasar tentang keimanan kita kepada Allah SWT. Pembahasan mengenai Aqidah Islamiyah sudah ada pada kurikulum agama Islam ketika kita sekolah dulu, entah di Sekolah Dasar, Menengah Pertama, maupun Menengah Atas. Bahkan yang ketika kuliah ada mata kuliah agama Islam pun, masalah aqidah ini juga di bahas. Karena sudah berulang-kali dibahas, maka kita terkadang menyepelekan masalah aqidah kita, sehingga dapat dengan mudah berkata, itu kan urusan SD, SMP, SMA atau kuliah, bukan lagi menjadi urusan saya saat ini.

Padahal kita tahu, bahwa ini adalah urusan iman, dan urusan iman tidak dibatasi oleh jenjang sekolah maupun umur. Untuk itulah, saya merasa tidak ada salahnya untuk kembali ke nol lagi kembali membahas permasalahan ini sekali lagi.

Aqidah Islamiyah pada hakekatnya adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, kepada qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk keduanya berasal dari Allah. Inilah yang sering disebut sebagai rukun iman.

Iman itu sendiri memiliki makna pembenaran yang bersifat pasti (tashdiiqul jazm), yang sesuai dengan kenyataan, yang muncul dari adanya dalil/bukti.

Bersifat pasti artinya 100% kebenaran atau keyakinannya tanpa ada keraguan (dzann) sedikitpun.

Dalil adalah bukti dari apa yang kita imani. Dalam Islam, hal-hal yang masih dalam jangkauan panca indra/akal kita, maka dalilnya bersifat Aqli. Jika diluar jangkauan panca indra maka harus didasarkan pada dalil Naqli (Al-Qur'an dan Al-Hadist).

Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para ulama untuk memudahkan memahami Islam. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut tidak terjadi. Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman, artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada. Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak, artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam masih tetap ada.

Dalam perkara-perkara yang bisa diselesaikan oleh akal kita, kita boleh menggunakan dalil aqli, hanya saja perlu diingat bahwa dalil aqli yang kita gunakan harus tetap sejalan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Adapun penggunaan dalil naqli sesungguhnya juga ditetapkan dengan jalan aqli, artinya, melalui pemikiran akal untuk menentukan mana yang lebih tepat dijadikan sebagai sumber dalil naqli terhadap suatu permasalahan iman.

Dilihat dari pengertian dan penggunaannya, dapat kita pahami bahwa dalam menghadapi permasalahan iman, akal harus dapat sejalan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadist, dan keduanya memang tidak dapat dipisahkan dari setiap pribadi muslim.

 

Dalil Naqli dalam hal aqidah haruslah Mutawatir

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa aqidah haruslah tasdiiqul jazm yang artinya pembenaran dengan pasti. Pembenaran dengan pasti ini tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam meng-imani-nya. Harus 100% dan tidak boleh 99.9999%, hal ini karena dalam menyangkut masalah iman atau kafir, jadi yang ada adalah 100% atau tidak 100%.

Untuk itulah dalam masalah aqidah/keimanan dalil naqli yang digunakan haruslah kuat dan qath'i (pasti) serta tidak memberi peluang sedikitpun untuk ada keraguan di dalamnya.

Dalil naqli yang sudah pasti tidak ada keraguan di dalamnya pastilah Al-Qur'an, sehingga tidak ada keraguan bagi kita untuk mengimaninya.

Adapun Al-Hadist adakalanya disampaikan secara mutawatir, adakalanya juga disampaikan secara ahad. Hadist-hadist mutawatir memiliki syarat yang sangat ketat bila dibanding hadist ahad, yang mengakibatkan hadist mutawatir ini bersifat qath'i, tidak mengandung dzann, sehingga kebenarannya 100%.

Oleh sebab itu hadist ahad tidak dapat digunakan sebagai dalil naqli khusus untuk masalah aqidah/iman, namun tetap dapat digunakan untuk masalah selain aqidah/iman.

 

Wallahu 'Alam bissawab

Alhamdulillah

 

Refrensi:

- Islam mulai akar ke daunnya

Yusuf Wibisono, dkk

- Hadist Web 2.0 

http://opi.110mb.com/

- Kumpulan Shalawat yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits - CyberMQ.com

www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/12/1/pustaka-171.html